Narai Habar, Balangan – Selama ini, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) kerap dipersepsikan hanya sebagai mata pelajaran yang berfokus pada aktivitas fisik dan kebugaran jasmani. Namun, dalam paradigma pendidikan abad ke-21 yang menuntut keberlanjutan dan relevansi kontekstual, PJOK sejatinya memegang peran strategis sebagai wahana pembentukan karakter, penguatan identitas budaya, serta penumbuhan kesadaran ekologis.
Dalam konteks Kalimantan Selatan yang didominasi oleh ekosistem lahan basah seperti rawa, sungai, dan danau, muncul gagasan penting untuk menghadirkan PJOK berbasis lahan basah sebuah pendekatan yang menyatukan tiga ranah: tubuh, budaya, dan lingkungan. Melalui pendekatan ini, PJOK tidak sekadar “menggerakkan tubuh”, tetapi juga “menghidupkan nilai” dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan serta warisan budaya setempat.
Lahan Basah Sebagai Ruang Belajar Kontekstual
Kondisi geografis lahan basah sering dianggap sebagai hambatan dalam pembelajaran olahraga: lapangan yang tergenang, perubahan cuaca ekstrem, dan medan yang sulit diprediksi. Namun, di balik keterbatasan itu, justru tersimpan peluang pedagogis yang luar biasa.
Guru PJOK dapat berinovasi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai kelas alami, seperti mengadaptasi permainan tradisional di tepian rawa, melakukan senam di teras saat lapangan tergenang, atau menggelar kegiatan lintas lingkungan yang memadukan kebugaran dengan literasi ekologi. Aktivitas semacam ini bukan hanya melatih fisik, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, bermakna, dan menyentuh sisi emosional siswa terhadap alam.
Menggerakkan Nilai Sosial dan Budaya
Pendekatan ini juga memberi ruang besar bagi pelestarian kearifan lokal. Melalui permainan tradisional, ritual masyarakat sekitar lahan basah, hingga kisah rakyat yang sarat makna ekologis, peserta didik belajar menghargai akar budaya mereka sendiri. Aktivitas semacam itu menguatkan jati diri komunitas sekaligus menghidupkan nilai-nilai sosial seperti gotong royong, empati, dan tanggung jawab.
Dengan demikian, PJOK berbasis lahan basah bukan hanya membentuk tubuh yang kuat, tetapi juga membangun karakter yang berakar pada budaya dan cinta lingkungan.
Tantangan dan Peran Guru PJOK
Guru menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi ini. Tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan kondisi alam yang tidak menentu menuntut guru untuk menjadi pendidik yang kreatif, reflektif, dan adaptif.
Guru PJOK idealnya memiliki pemahaman lintas disiplin: olahraga, budaya, dan ekologi. Mereka perlu mampu memetakan potensi lokal, mendesain aktivitas kontekstual, berkolaborasi dengan guru biologi atau geografi, serta mengevaluasi peserta didik tidak hanya dari segi gerak, tetapi juga sikap terhadap budaya dan lingkungan.
Menuju Pendidikan Jasmani yang Berkelanjutan
Pendekatan PJOK berbasis lahan basah sejalan dengan semangat Education for Sustainable Development (ESD) pendidikan yang menghubungkan manusia dengan lingkungan dan masa depannya.
Melalui pembelajaran semacam ini, siswa tidak hanya menjadi generasi yang sehat secara fisik, tetapi juga agen perubahan yang sadar budaya dan peduli lingkungan. Mereka belajar bahwa tubuh yang bergerak dapat menjadi simbol kehidupan yang selaras dengan alam dan masyarakat.
Penutup
PJOK berbasis lahan basah bukanlah slogan, melainkan panggilan untuk bertindak. Ia menegaskan bahwa olahraga bisa menjadi ruang pembentukan nilai dan kesadaran ekologis, tempat di mana manusia, budaya, dan alam saling berjumpa dalam harmoni.
Ketika guru, sekolah, dan masyarakat bersama-sama menghidupkan pendekatan ini, maka lahirlah generasi baru generasi yang sehat, peduli, dan mencintai lingkungan sebuah cerminan pendidikan jasmani yang tidak hanya menggerakkan tubuh, tetapi juga menggerakkan peradaban. (*)
Oleh: Muhammad Nadjmi Rajibi
Mahasiswa Magister Pendidikan Jasmani, Fakultas Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat





